Cinta Brontosaurus: Film Komedi Kaku Raditya Dika (Lagi)

Raditya Dika bisa dibilang gagal sebagai aktor komedian ketika film yang diadaptasi dari bukunya yang berjudul Kambing Jantan kurang begitu di pasaran–sekalipun bukunya laris manis. Nah, Cinta Brontosaurus bisa dibilang menjadi pertaruhannya kembali di jagad akting.

Menyaksikan Cinta Brontosaurus tak ubahnya seperti menyimak hasil pembelajaran Dika–begitu dia biasa dipanggil–dalam penulisan skenario film. Dia memang bisa dibilang berhasil dalam menulis buku, tapi untuk sebuah film tentunya perlu pergelutan lebih dalam lagi. Tak heran, dia mengaku membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk menghasilkan skenario utuh film ini dengan tujuh kali revisi. Hasilnya?

Sebelum bicara soal hasil, lebih baik disimak dulu bocoran saya mengenai film tersebut. Film ini dimulai dengan monolog bagaimana Dika selalu gagal dalam urusan cinta yang semuanya berhasil dengan kekecewaan. Tak heran, dia memiliki anggapan bahwa tidak ada cinta yang tidak kadaluarsa.

Setelah putus dari pacar terakhirnya, Nina (Pamela Bowie), Dika melewati hari-harinya dengan penuh kekalutan. Tidak ingin temannya kelamaan menjomblo, Kosasih (Soleh Solehun), teman sekaligus yang menjadi agen untuk buku yang ditulisnya, mencoba meyakinkan dirinya untuk segera pacaran dan kembali merajut cinta sejati.

Berbeda dengan Dika, Kosasih memang terbilang beruntung dalam urusan asmara. Dia punya pacar yang cantik bernama Wanda (Tyas Mirasih) yang selalu menunjukkan kemesraannya lewat telepon. Usaha Kosasih memperkenalkan teman-teman wanitanya yang jomblo justru berakhir dengan konyol.

galidfc_25042013_93071

foto: cinta brontosaurus

Di tengah pesimisme itu, nggak disangka Dika bertemu dengan Jessica (Eriska Rein), yang perilakunya cukup aneh. Nggak disangka-sangka, keduanya memiliki keanehan yang sama dan menjalin hubungan serius.

Namun, hubungan itu rupanya nggak semulus dugaan Dika, karena dia kerap dibayang-bayangi pertanyaan: apakah ada cinta yang tidak kadaluarsa? Alhasil, hubungan yang terbina dengan Jessica berangsung hancur berantakan karena pertanyaan itu.

Diputar sejak 8 Mei 2013, Cinta Brontosaurus sebenarnya bisa dibilang sebagai drama romantis yang berhasil, jika itu memang drama romantis tanpa embel-embel komedi. Hal ini tak lain, komedi yang dipaparkan dalam film ini terlihat garing dan terlalu dibuat-buat.

Sebenarnya kegaringan itu sah-sah saja dalam sebuah film bergenre komedi. Namun, kondisi semakin diperparah dengan akting Raditya Dika dan Soleh Solihun yang terlihat kaku baik dari ucapan maupun gestur bahasa tubuh. Kekonyolan-kekonyolan yang dihadirkan seharusnya bisa lebih memancing tawa kalau saja akting keduanya jempolan.

Ya, bagaimanapun juga, Cinta Brontosaurus patut diapresiasi kehadirannya sebagai film komedi romantis dalam negeri di tengah kekosongan genre yang sama. Jika di sebuah gedung bioskop ada dua jenis film yakni film ini dan film pocong-pocongan, saya akan lebih memilih film yang disutradarai Fajar Nugros ini sebagai karya yang menghibur. Meskipun sepanjang durasi harus mengenyitkan dahi karena akting kaku pemeran utamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s