Banjir Lagi, Salah Siapa?

image

Bukan warga Jakarta namanya kalo tidak galau gara-gara banjir. Tapi saya rasa–seperti halnya saya–warga Jakarta sudah tidak galau lagi terhadap banjir. Sudah biasa, biasa menerima!

Ya, dalam bulan ini saja, rumah saya udah dua kali mengalami banjir. Dan, hari ini adalah yg paling parah dalam sejarah banjir yang pernah menghampiri rumah. Meski meresahkan, semua sudah kami anggap biasa. Tidak ada lagi wajah-wajah khawatir akibat musibah ini. Malah kami lupa kalau kejadian ini termasuk musibah.Setegar itukah warga Jakarta? Bisa dibilang iya. Banjir? Sudah biasa tuh! *lelepin muka ke air banjir*

Seperti dalam artikel yang pernah saya tulis (nanti bakal saya kasih hyperlink-nya), musibah banjir musiman yang tiap tahun menyapa Jakarta dikarenakan kurangnya resapan air.Pembangunan besar-besaran ibukota yang tidak mengindahkan keseimbangan alam, membuat Jakarta tidak lebih dari seorang wanita ber-make-up tebal dengan jiwa yang rapuh. ‘Make-up’ sengaja dibuat tebal untuk menyembunyikan kerapuhannya: kemiskinan!

Kita boleh bangga menjadi warga ibukota yang moderen, tapiĀ  bagaimana rasanya jika kebanggaan itu berdiri karena kejahatan terhadap alam? Saya merasa, semakin moderennya ibukota, justru semakin sering banjir. Hujan sedikit saja, genangan air di mana-mana. Tentu kejahatan itu tidak hadir dengan sendirinya, melainkan dengan campur-tangan kepentingan konglomerasi dan pejabat bermental korupsi. Ini bukan rahasia umum lagi!

Sebenarnya, saya sedikit optimis dengan masa depan Jakarta atas bergantinya Gubernur yang sekarang diisi Jokowi. Saya melihat gebrakan-gebrakan beliau terhadap ibukota sudah begitu ketara, baik dari pengaspalan kembali jalan-jalan utama, pembaruan busway, hingga rencana pengentasan kemacetan lewat kebijakan plat seri ganjil-genap.

Namun, optimisme saya menjadi terusik tak kala ada orang yang menyalahkan musibah banjir ini karena kepemimpinan Jokowi. Hallo, Anda baru tinggal di Jakarta? Asal tahu saja, banjir di ibukota merupakan peninggalan rezim lama yang penuh dengan kejahatan terhadap keseimbangan alam dan lingkungan. Jokowi sendiri belum genap 100 hari memimpin, jadi buat apa salahkan beliau?

Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mendukung aksi nyata Jokowi dalam memerangi permasalahan ibukota, termasuk banjir. Sembari beliau mewujudkan itu, mari kita benahi juga gaya hidup kita yang selama ini menjadi bagian dari konspirasi rezim lama terhadap alam ibukota, di mana tidak adanya hukuman yang pasti untuk pembuang sampah sembarang.

Saya memang kurang yakin Jokowi bakal mengeluarkan Perda yang lebih ketat mengenai ‘kejahatan ringan’ itu. Tapi dari pada berharap keluarnya peraturan yang mengungkung kejahatan kita terhadap lingkungan, lebih baik kita mulai kebiasaan baru: tidak membuang sampah sembarangan.

Hal ini memang sudah terlambat, mengingat banjir sudah menjadi bencana sistemik yang tidak hanya melibatkan kebiasaaan warga ibukota tetapi juga infrastruktur yang ada. Tapi, lebih baik terlambat bukan, dari pada tidak sama sekali?

Jakarta, 17 Januari 2013

*Ditulis sambil duduk di kursi yang terendam banjir*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s