Ditinggal 3 Bulan, WordPress Ganti Wajah Lagi

wajah baru WPAlamak,  gak terasa sudah 3 bulan saya mengabaikan (kembali) blog ini.  Seperti biasanya, sekembalinya saya ke ‘rumah’ yang tak terurus ini, WordPress memberikan kejutan terbaru lagi, yakni halaman utama yang berganti wajah (versi Inggris). Entah sejak kapan perubahan ini terjadi, yang jelas tampaknya WordPress terus berupaya memperkuat posisinya sebagai penyedia layanan blog paling wahid dan membangun loyalitas penggunanya yang nakal seperti saya.

Dari 3 bulan yang terlewati itu sebenarnya banyak cerita yang ingin saya bagi dalam blog ini, namun berhubung pekerjaan yang ketat-melekat tampaknya menyulitkan saya membagi waktu untuk bercuap-cuap di ranah blog. Maklum saja, bermetamorfosis dari jurnalis media cetak ke media online tampaknya benar-benar merubah pola dan ritme kerja saja.

Menurut saya, dari berbagai pekerja media yang pernah saya singgahi, jurnalis online nyatanya sangat berat sekali. Jika dihitung secara kumulatif, kuota berita perharinya melebihi kuantitas jurnalis media cetak jika dibandingkan media cetak. Belum lagi, jurnalis online harus dapat menulis dari medan apapun dan dalam waktu tersempit-sempitnya. Berbeda dengan majalah yang penulisan bisa dilakukan beberapa jam setelah peliputan bahkan esok hari di dalam suasana kantor yang nyaman, jurnalis online justru mengharuskan berita harus tersaji tak lama setelah peliputan berlangsung, tak peduli ‘sekeras’ apapun lingkungan peliputan.

Saya merasa bodoh sekali tidak menciptakan dokumentasi tertulis mengenai peristiwa 3 bulan terakhir yang menggulirkan banyak fenomena, seperti debat calon presiden, pemilihan presiden, hingga teror bom yang kembali mengguncang Jakarta.

Padahal meskipun saya enggan berurusan dengan booting laptop yang lemot untuk ngeblog, setidaknya saya sekarang sudah memiliki LG KT610 yang biasa saya pakai untuk mengetik dan mengirim berita. Justru perangkat ini saya lebih manfaatkan untuk chatting dan update status Facebook (duh!).

Mudah-mudahan dengan posting terbaru ini, saya kembali bertenaga untuk mengisi ‘rumah’ saya yang terabaikan ini. Selanjutnya, mudah-mudahan juga saya tidak berpaling dari fenomena Twitter yang belakangan membuat para blogger mengkonversikan diri sebagai micro-blogger. Bagaimananpun juga merefleksikan isi batin tidak lah cukup hanya dengan 140 karakter. Blog menurut saya tetap media terbaik menerjemahkan aspirasi dalam bentuk tulisan meskipun kadang-kadang saya malas mengupdate-nya hehehe…

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s