My Bloody Valentine 3D, Teknologi Real-ID 3D Membuatnya Lebih Mencekam

maxresdefault

Kekerasan, ketegangan, dan nudity adalah sebuah intisari atau pakem yang dianggap penting dalam sebuah film suspence thriller di lini horor. Ketika pakem ini mulai dikemas dalam layar bioskop berteknologi tiga dimensi (3D), apa yang terjadi? sudah tentu film semakin mencekam. Begitulah yang saya rasakan ketika menonton film My Bloody Valentine 3D kemarin malam.

Sebagai pecinta film horor, menonton dalam format 3D tentu menambah kenikmatan tersendiri. Apalagi format 3D yang disajikan sangat jauh berbeda ketika ketika teknologi ini pernah booming di awal tahun 90an di kancah pertelevisian lokal. Kacamata yang digunakan bukan kacamata plastik warna merah-biru yang rapuh, melainkan kacamata dengan frame ala geek yang sedang dicemari tren masa kini.

Film My Bloody Valentine 3D disebut-sebut sebagai film horor pertama yang mengadopsi teknologi 3D, setelah sebelumnya format yang sama dibesut oleh film-film animasi. Di putar di 3D Blitz Megaplex yang menghadirkan film dengan teknologi RealID–kabarnya yang pertama di Asia Tenggara–sudah tentu tampilan 3D lebih canggih dibandingkan dengan 3D versi salah satu layar televisi tempo dulu.

Ketika film dimulai, saya sudah mulai takjub. Gambarnya benar-benar mencuat keluar dan untuk rangkaian opening tittle-nya membuat kita seolah masuk ke dalam sebuah frame-frame bertingkat. Saking takjubnya dan terlalu asyik dengan detail gambar, saya sampai mengambaikan cerita pembuka di film ini. Kesadaran saya baru pulih ketika film mulai bergeser ke durasi 10 menit.

Sebenarnya film My Bloody Valentine 3D merupakan film remake dari judul yang sama di tahun 1981 produksi Kanada. Saya pernah menonton film ini berkali-kali di sebuah stasiun televisi di awal tahun 90an, ketika saat itu film horor hanya diputar pada jam tengah malam. Jika ditanya mengenai perbedaan antara versi orsinil dan remake-nya, saya sedikit kesulitan memilih mana yang lebih bagus. Saya rasa, remake ini dibuat untuk menutupi kelemahan yang ada di versi orsinil. Terutama dalam mengemas ketegangan.

Kisah dimulai dengan prolog yang kira-kira begini (maklum, bagian ini saya sedang keasikan dengan detail gambar sehingga cerita kurang difokuskan hehehe): sebuah kecelakaan di sebuah pertambangan batu bara terjadi akibat kecerobohan salah seorang pekerjanya, Tom Hanniger, karena asyik merayakan pesta Hari Valentine. Salah satu korbannya adalah Harry Warden. Setahun kemudian, Harry siuman dari komanya malah berubah menjadi psikopat dan membunuh satu persatu penghuni rumah sakit.

mbv2-2

Dengan penuh dendam dia kembali datang ke pertambangan yang ternyata sedang dijadikan lahan pesta Hari Valentine oleh Tom dan teman-temannya. Kontan Harry mengincar Tom.  Beruntung Tom berhasil diselamatkan dan malam itu Harry diklaim mati tertembak.

Sepuluh tahun kemudian, setelah sempat menghilang karena trauma, Tom kembali lagi ke kota tempat tragedi itu terjadi. Sekembalinya Tom menjelang Hari Valentine, ternyata sosok pembunuh bertopeng penambang dan kapak beliung yang selama ini diidentikan oleh Harry Warden kembali menebar teror.  Satu per satu orang-orang di sekitar Tom tewas dengan cara mengenaskan.

Sebenarnya, jika merujuk dari versi orsinalnya, saya dengan sangat mudah menebak ending film ini. Tapi tidak semudah itu. Sang Sutradara, Patrick Lussier, tampaknya begitu cerdas membolak-balikan cerita, sehingga beberapa tebakan saya meleset, bahkan hingga di ujung cerita, saya pun meragukan kemiripan film ini dengan versi orsinilnya.

Dari segi alur cerita, meskipun versi remake-nya lebih gory, namun tetap saja untuk alur cerita versi orsinil lebih mencekam. Kelebihan versi remake, apalagi bukan dari teknologi 3D-nya yang membuat beberapa hantaman,  lemparan kapak hingga muncratan darah seperti mencuat ke arah penonton. Ini yang membuat tampilan film lebih membuat bergidik. Kekerasan yang ditampilkan lebih frontal dan seolah mencuat ke luar layar.

Dengan teknologi memukau dan cerita yang menegangkan, saya rasa tidak berlebihan jika saya menggali kantong lebih dalam untuk dapat menonton film ini. Saya rasa sudah sepatutnya film masa depan berformat seperti ini untuk meredam DVD bajakan yang merajalela, sehingga orang berbondong-bondong datang ke bioskop untuk menikmati film secara ‘halal’. Setelah My Bloody Valentine 3D, film horor yang siap disajikan dalam format 3D adalah Black Friday. Sayangnya, film ini dirilis tahun 2010. Fiuh, tampaknya saya harus bersabar lebih lama lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s