Indonesia Masih Butuh Presiden Ganteng (Lagi)???

Pagi tadi mata saya terbelalak tajam ketika membaca sebuah berita dari sebuah koran yang memuat headline kedekatan Maia Estianti dengan Prabowo, pentolan Partai Gerindra. Apa yang membuat mata saya bereaksi berlebihan tentu saya bukan berita gosip kedekatan ketua figur publik ini, tapi justu kepada celotehan Maia dalam kampanye partai tersebut di suatu daerah.

Menurut ibu-ibu yang gemar bergaya bak remaja ini, kriteria calon pemimpin di negeri ini yang tepat bagi dia adalah Prabowo. “Selain tegas, beliau juga ganteng, sosok seperti ini yang dibutuhkan sebagai pemimpin,” ujarnya dikutip dari media tersebut. Tidak segan-segan, dia juga mengaku terpesona dengan kegantengan mantan mantu almarhum penguasa orba ini.

Seberapa banyak sih kaum hawa yang ‘ngiler’ liat penampilan Prabowo? Menurut Permadi, paranormal yang kini berkiblat di Partai Gerindra, tidak hanya Maia saja yang terpesona dengan kegantengan Ketua HKTI ini. Malah, dia mengklaim sudah banyak ibu-ibu yang tergila-gila pada sosok yang bakal meramaikan bursa capres ini.

Ganteng? Ini relatif sih ya. Tapi saya sangat menyesalkan sekali, kefiguran Prabowo yang diakui oleh kebanyakan orang–seperti yang diklaim Permadi tadi–hanya sebatas pada fisik belaka. Mungkin saja, Prabowo memiliki kreteria lebih sebagai pemimpin daripada faktor yang digembar-gemborkan Maia itu. Namun, rupanya–tanpa memandang rendah kaum perempuan–masih saja fisik seolah menjadi andalan dalam menggiring pilihan pemilih perempuan. Padahal, akibat pandangan politik hampa yang sebatas mengacu pada fisik capres, kita masih belum beranjak dari kondisi krisis multidimensi yang seolah tiada akhir.

Saya masih ingat, ketika pemilu capres 2004 lalu, kaum perempuan khususnya ibu-ibu sangat mengidolakan sosok SBY. Pamor SBY saat itu seperti imbas dari puber kedua kalangan perempuan baya. Ganteng, begitu penilaian sebagian besar kaum ibu tentang SBY. Ini pula sepertinya yang mendasari pemilih perempuan memberikan suaranya kepada suami dari Kristiani ini.

Setiap nama SBY disebut dalam penghitungan suara, sorak-sorai kaum perempuan di lingkungan saya sangat membahana. Suasana ini tidak ubahnya sebuah konser rock, dimana SBY adalah rockstar-nya, sementara mereka hanya groupies yang tidak memusingkan karya pujaannnya, melainkan sekedar memandang fisiknya bak sebuah poster artis yang dipajang di kamar remaja putri belasan tahun.

Belakangan, kondisi berakhir ironis. Kebanyakan para ‘groupies’ yang dulu bersemangat meneriakan nama ‘rockstar’ kesayangannya justru terlihat berdesak-desakan dan saling tarik-menarik dalam sebuah antrian. Mereka begitu bukan karena dalam suasana konser melainkan sebuah dagelan bernama BLT, sebuah kebijakan yang menurut saya semakin meneguhkan bahwa pemerintah lebih senang melihat rakyatnya bermental pengemis dibandingkan produktif. Padahal, wacana yang digulirkan sebagai antitesi dari BLT adalah pemberian modal usaha jangka panjang, bukan sebuah dana yang sifatnya hanya memanjangkan nafas sekian hari saja. Maaf saja, menurut saya program BLT adalah sedikit faktor yang memperlihatkan kegagalan pemerintahan SBY-JK.

Lalu apa relevansi antara SBY dan Prabowo? Ya itu dia. Fisik menjadi komoditi tambahan dalam merajut skor kriteria diri. Cuma saja, mungkin Prabowo lebih diuntungkan dengan statusnya yang menduda. Kondisi ini yang jika ‘diolah’ oleh tim suksesnya menjadi selling point yang tinggi, karena perempuan sangat menyukai figur yang melajang. Sama halnya kaum pria yang lebih tertarik pada perawan ting-ting dibandingkan perempuan bersuami.

Namun, saya percaya beberapa motor di Partai Gerindra mungkin tidak sebodoh itu. Saya harus akui, meskipun bukan penggemar Prabowo, saya yakin dia adalah sosok yang memiliki kelebihan di samping kelebihan dalam hal keuangan :P. Jadi, sebaiknya tidak perlu lah jargon-jargon ‘ganteng’ dijual dalam masa kampanye, seperti yang dilakoni Maia. Ampun, Bu!

Saya yakin yang Maia gemborkan tentang Prabowo dalam acara tersebut bersifat pribadi dan subjektif, secara sama-sama melajang boleh dong ‘usaha’ dikit–duh, kok nulisnya jadi kacau gini sih? Maksud saya, mungkin Maia kurang mendalami karakter kefiguran dari Prabowo, padahal dia sendiri adalah juru kampanye di Partai Gerindra. Namun, justru statement seperti ini sepertinya membuahkan propaganda terbaru akan sebuah ‘nilai’ seorang Prabowo yang membuat pemilih dari kalangan perempuan ‘melek’. Yang tadinya tidak ngeh menjadi ngeh. Maksudnya? Tebak sendiri deh hehehe…

Bagi warga pemilih, semoga saja tidak terpancing dengan pandangan politik yang provokatif namun tidak objektif yang digencarkan primadona-primadona panggung demokrasi. Betapa bodohnya seseorang yang memandang suatu figur ketokohan yang bakal pemimpin negeri ini dari sisi fisiknya saja. Indonesia tidak butuh presiden ganteng (lagi!). Tetapi sosok presiden yang pro-rakyat bukan pengorganisir penjajahan dalam bentuk baru. Kalau cuma memandang fisik, saya mau rikues sama parpol yang nimbrung di Pemilu 2009: Aura Kasih dong! Aura Kasih for President? mmmm….

3 comments

  1. Saya setuju dengan Anda, Aura Kasih for presiden, tetapi syaratnya dia musti berlaku ”jantan”.

    Oh iya di blog Saya pun, Saya telah merumuskan kriteria pemimpin lho…
    Sederhana aja kok kriterianya. Untuk itu, silakan berkunjung deh dan jangan lupa untuk mengomentarinya ya..

    Thank’s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s