Sosialisasi Pemilu 2009, KPU Rambah Youtube

kpu-youtubeAgar penyelenggara pemilu, baik masyarakat pemilih, peserta, dan stakeholder lainnya memiliki pemahaman yang seragam dalam mengikuti pelaksanaan dan pemungutan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS), baru-baru ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) bekerjasama dengan United Nation Development Programme (UNDP) melalui Project Election-MDP, meluncurkan “Buku Pintar KPPS, Modul PPK, dan video KPPS.

Sejatinya ketiga materi sosialisasi Pemilu 2009 tersebut menjadi panduan KPPS dalam melaksanakan pemungutan dan penghitungan suara. Namun mengingat informasi seputar Pemilu 2009 terhitung penting untuk dipublikasikan ke seluruh lapisan masyarakat, KPU berinisiatif mengunggah seluruh materi video KPPS ke situs Youtube. Cukup dengan mengetikan kata kunci (keyword) “KPPS 1”, masyarakat dapat terhubung ke video tersebut.

Nah, karena keterbatasan kuota durasi video pada Youtube, seluruh materi video dipisahkan menjadi empat bagian, yakni KPPS 1, KPPS 2, KPPS 3, dan KPPS 4, dengan durasi tiap bagiannya sekitar 10 menit. Meskipun mengalami konversi dari format aslinya, kualitas gambar dan suara video ini cukup jernih tanpa mengurangi maksud dan tujuan durasi. Justru yang menjadi permasalah adalah teknis penggarapan materi video ini dimana tidak ada sinkronisasi antara gambar dan suara.

Lewat video sosialisasi ini, Ketua KPU Abdul Harif Anshary memberikan kata sambutannya di sekitar tiga menit durasi pertama. Adapun sambutan tersebut merupakan ucapan terima kasih dan himbauan kepada Ketua KPSS dan anggotanya agar tetap berpegang teguh pada kode etik pemilu, seperti: melayani pemilih dalam menggunakan hak pilihnya; melaksanakan tugas, wewenang, dan kewajiban berdasarkan hukum; melaksanakan administasi pemilu yang akurat dan tidak melibatkan diri dalam konflik kepentingan; bersikap dan bertindak non-partisan dan imparial atau tidak memihak; serta transparan, akutabel, dan professional.

Selanjutnya, video menggiring tema persiapan satu hari sebelum pemilu berlangsung. Disini, ditampilkan sebuah simulasi penempatan kursi bagi pemilih, letak kotak suara, bilik suara, pencelupan jari, posisi saksi, posisi pemantau, sampai pintu keluar. Semua ini sesuai dengan grand skenario Bagan Tata Cara Pemberian Suara di TPS yang dilansir KPU. Tidak ketinggalan pula tentunya simulasi pelaksanaan pemilu. Semua materi durasi video ini disajikan dengan menggabungkan format presentasi dan simulasi dengan bahasa dan adegan yang mudah dicerna oleh masyarakat. Bahkan, terdapat pula berbagai adegan yang menggambarkan kendala atau masalah yang kemungkinan terjadi selama proses pemungkutan suara berlangsung. Tentunya, adegan ini juga berlanjut dengan cara penyelesaian permasalah tersebut.

Kesenjangan Digital

Pemanfaatan Youtube sebagai ajang sosialisasi Pemilu 2009 sebenarnya merupakan inisiatif yang cukup cerdas, karena situs ini merupakan salah satu yang terpopuler di dunia maya. Selain itu, situs ini juga bersifat gratisan, baik untuk mengunggah (upload) maupun mengunduh (download). Jika dikait-kaitkan dengan isu penghematan dana sosialisasi, tentu peranan Youtube cukup besar. Apalagi sebagai ongkos produksi 650 ribu “Buku Pintar KPPS”, 8 ribu “Modul PPK”, dan 10 ribu keping “Video Pelatihan KPPS”, tergolong besar, yakni sekitar Rp 4 miliar dengan pendistribusian ke setiap PPK di seluruh kecamatan di Indonesia.

Meskipun begitu, bukan berarti sosialisasi seperti ini tidak terhadang kendala. Jika dikaitkan dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang baru sekitar 20 juta pengguna, tentu tidak sebanding jumlah masyarakat pemilih yang ingin dibidik KPU. Isu kesenjangan digital (digital divide) tentunya juga menjadi kendala dalam penyampaian informasi yang tidak sporadis, mengingat beberapa kawasan di Indonesia belum terjangkau sambungan internet. Selain itu, kondisi bandwidth internet di Indonesia yang tergolong lambat membuat pengguna internet malas mengakses video di Youtube, karena proses buffering-nya akan tersendat-sendat.

Idealnya, seiring dengan sosialisasi lewat Youtube, KPU juga perlu membeli slot durasi advertorial atau iklan layanan masyarakat di stasiun televisi. Terutama di jalur prime-time (pukul 7-10 malam), dimana jutaan pemirsa sedang menyaksikan acara televisi. Tentunya, cakupan sasaran dari sosialisasi ini makin besar. Karena, meskipun internet menjadi sebuah teknologi yang sedang booming di Indonesia, namun tetap saja pamornya masih harus mengalah terhadap televisi. Sayangnya, untuk sosialisasi di jalur ini KPU harus merogoh kocek lebih dalam lagi karena untuk durasi hitungan detik commercial break saja, satu spot-nya bisa mencapai puluhan juta rupiah per tayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s