The Cottage: Tertawalah di Atas Darah

the-cottage-poster-largeSebenarnya film ini pernah saya tonton tahun lalu ketika hajat ScreamFestIndo 2008 digelar. Nah, berhubung ternyata film ini kembali diputar di jaringan bioskop Blitz. Tidak ada salahnya saya publikasikan kesan saya terhadap film horror asal Inggris ini.

Film horror? Eit, sebaiknya jangan terlalu antipati dulu. Meskipun di tengah cerita film ini bakal mengobrak-abrik andrenaline, justru keistimewaan film ini terletak dari sisi humor kelamnya.

Opening credit dan music score dari film ini sungguh di luar kebiasaan. Lupakan alunan mistik dan gelap string-section orchestra yang mencabik-cabik durasi. Di film ini, justru komposisi musik mengalun bagaikan arena sirkus atau carnaval. Sungguh riang dan lucu.

Apakah filmnya selucu itu? Inggris memang jagonya bikin film ‘dark comedy’ dan saya merasa film ini berada di jalur tersebut. Meskipun mempertontonkan adegan sadis penuh darah, toh tetap saja dialog tersusun dengan kosa-kata lucu yang tidak terkesan dipaksakan.

Film ini memang dikemas dengan gaya komedi namun ditata dengan cerita mencekam yang serius. Kekacauan dimulai ketika David dan Peter menculik Tracey, anak perempuan seorang mafia yang disekap di sebuah pondok terpencil. Peter meminta tebusan sejumlah uang kepada mafia tersebut dan dititipkan ke Andrew, abang tiri Tracey. Andrew yang ternyata rekan kriminal Peter senang bukan main begitu dberi tas besar oleh ayahnya. Tapi bodohnya, dia tidak mengecek lebih dulu isi dari tas yang dianggap berisi uang.

Benar saja, begitu tas dibuka dihadapan Peter, ternyata isinya hanya kumpulan tisu toilet. Parahnya, Andrew ternyata dikuntit oleh dua preman asal Korea kiriman ayahnya yang ingin mengetahui tempat persembunyian Peter.

Kekacauan dilanjutkan dengan Tracey yang berhasil melepaskan diri dan berbalik menawan Peter yang kikuk. Tracey ternyata tidak selemah yang diduga. Justru gadis liar ini memegang kendali atas nasib kedua penculiknya.

Selanjutnya, ketegangan mulai menyentuh durasi film ini, ketika kedua preman Korea yang seharusnya dibayar untuk membunuh Peter dan David, justru malah ditemukan terbunuh dengan leher digorok. Pembunuhnya ternyata seseorang yang menyerupai monster yang tinggal di desa tersebut.  Dari hubungan yang berawal sebagai tawanan dan penculik, mau tidak mau, Trey, David dan Peter harus ‘bekerja sama’ menghadapi pembunuh sadis ini.

Apakah kerjasama si gadis liar dan dua penjahat amatiran ini berhasil? Tentu saja tidak. Justru kekacauan semakin terjadi. Dari sini, seolah-olah kita tertawa di atas darah. Karena memang film ini mempertontonkan adegan mutilasi dan pembunuhan yang sedikit ekstrem. Tapi berhubung dikemas dalam suasana parodi, film terkesan tidak lagi mengerikan. Justru ketika si pembunuh memasang muka seram sambil membawa-bawa kampak dan mengejar korbannya, saya malah sempat tertawa. Entahlah, apakah reaksi ini normal efek dari film atau memang saya sudah gila?

Score: 4/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s