Australia: Ketika Durasi Panjang Menjadi Bumerang

australiaposter1Sejak film Titanic memborong piala Oscar pada Academy Award tahun 1997,  seperti ada sebuah pakem baru di kancah penghargaan perfilman internasional. Hampir semua film yang berlaga di  ajang Golden Globe, Palm D’or, maupun Academy Award kebanyakan adalah film berdurasi lebih dari 2 jam.  Tapi tidak sedikit pula film berdurasi panjang hanya cukup puas menembus box office atau malah jeblok di pasaran.

Durasi yang panjang memang memungkinkan pembuat film lebih bebas berkreasi membangun sebuah alur cerita. Namun tidak sedikit pula yang lupa akan konsistensi. Kecerobohan dari para pembuat film dengan durasi panjang kebanyakan lebih kepada cerita yang bertele-tele, konflik yang dipaksakan, dan hilang fokus pengakhiran cerita.  Contoh teranyarnya ada di film Australia, yang dibintangi Nicole  Kidman (Lady Sarah Ashley) dan Hugh Jackman (Drover).

Alur menarik sebenarnya sudah terjadi di awal cerita. Dimana seorang aristokrat asal Inggris bernama Sarah ingin menyelesaikan permasalahan yang membelit Faraway Downs, perternakan milik  suaminya di daerah bagian utara Australia. Ditemani Drover, salah satu penggembala kepercayaan suaminya, dia memulai pertualangannya di Faraway Downs, mulai dari suaminya yang ternyata ditemukan mati dibunuh oleh salah seorang pekerjanya yang berkhianat; pertemuannya dengan Null, bocah blasteran Aborigin yang memiliki keajaiban; hingga persaingannya dengan King Carney, juragan ternak setempat.

Awalnya, Sarah merasa bingung kenapa suaminya begitu suka tinggal di Australia. Namun, setelah terlibat dengan kehidupan keras dan perjuangannya membangun Faraway Downs, dia pun mulai mencintainya negeri ini, seperti dirinya yang perlahan mencintai Dover, setelah pria petualang ini berhasil menyelamatkan Faraway Downs dari keterpurukan akibat kecurangan antek King Carney.

Sebenarnya, cerita sudah sangat menarik ketika kita menyaksikan perjuangan Sarah dan Drover yang berusaha mati-matian membangun Faraway Downs dan berharap happy ending terjadi ketika keduanya saling jatuh cinta. Namun, rupanya lagu yang mendayu pada adegan ini hanya ‘jebakan’. Cerita tidak berakhir disitu. Konflik pun mulai terjadi di antara hubungan keduanya. Drover yang terbiasa hidup bebas merasa tidak suka terikat dengan komitmen yang diminta Sarah, yakni menetap di Faraway Downs membangun ‘rumah tangga’ yang normal. Keduanya pun berpisah.

Di tengah perpisahan itu, tak disangka Jepang menginvasi Darwin hingga hancur lebur. Di saat yang sama, Sarah bekerja di salah satu pusat informasi di kota tersebut, yang merupakan salah satu target bom. Begitu mengetahui kabar tersebut, Drover yang berada di lembah lain sangat terpukul. Apalagi sepanjang hubungannya dengan Sarah, dia tidak pernah menyatakan cintanya.  Dia pun kembali ke Darwin menanti Sarah yang dikabarkan meninggal.

Apakah ending-nya sesedih ini? Ternyata tidak. Ah, lagi-lagi music score menipu seolah-olah tangisan Drover merupakan akhir dari film ini. Nyatanya, film ini seperti dijejali satu cerita lagi dan pada akhirnya film ini ditutup dengan happy ending. Kesan memaksakan untuk  memenuhi durasi memang sangat ketara di film ini. Plot-plot yang dihadirkan seolah menyuguhkan sebuah film utuh dari tiga bagian cerita.

Seharusnya film sudah cukup bagus jika ditutup di bagian ketika Sarah dan Drover hidup bersama. Kalaupun ingin sad ending, seharusnya diletakkan pada plot ketika tempat bekerja Sarah dibombardir Jepang. Kesalahan dari film ini adalah membuat penontonya terus menduga-duga apakah film ini berakhir happy maupun sad, tapi pada akhirnya dapat diketahui dengan sendirinya bahwa film ini happy ending ketika hampir mencapai klimaks.

Saya mencurigai panjangnya durasi merupakan salah satu strategi untuk menggondol Piala Oscar. Tapi apakah ini worth it? Saya rasa tidak.  Menghambur-hamburkan durasi tanpa menjaga konsistensi cerita menurut saya menjadi bumerang tersendiri bagi film ini. Kalaupun berhasil menggondol Oscar, saya rasa itu lebih kepada akting Nicole Kidman yang memang tidak diragukan lagi membuat film ini lebih bernyawa. Selain itu, bisa jadi aktor cilik pemeran Null memiliki kans yang sama karena kepiawai aktingnya yang patut diacungi jempol.

Secara keseluruhan film ini memang cukup menarik untuk ditonton. Sayangnya, tidak seharusnya disajikan dengan durasi yang panjang. Apalagi happy ending membuat film ini malah kehilangan pesonanya. Terlalu klise.

Skor 3.5/5

2 comments

  1. Seharusnya, kalau film ini terlalu panjang, artikel ini juga tidak usah dibuat panjang. Terlalu klise. Menambah daftar panjang tentang film Australia saja :D. Satu paragraf mungkin sudah mencukupi, sebagia penyeimbang film tersebut 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s