The Day The Earth Stood Still: Bikin Kapok Nonton Film Remake!

daytheearthstoodstillposter1When remake goes bad!! Begitulah sekiranya gambaran betapa film ini merusak ekspetasi saya akan sebuah film bergenre sci-fi sekelas Independence Day yang tidak pernah bosan untuk ditonton berkali-kali.

The Day The Earth Stood Still (TDTESS) tampaknya melengkapi pengalaman saya sebagai yang “tertipu” dari sebuah film sci-fi remake seperti War of The World, dimana nama besar Steven Spielberg sebagai sutradara dan Tom Cruise sebagai aktor utamanmya, tidak mampu membuat film tersebut menarik bagi yang berakal sehat.

Begitupun The Day The Earth Stood Still. Sekalipun penonton “diiming-imingi” penampilan Keanu Reeves, film ini tidak berdaya di alur cerita. Untuk 30 menit pertama memang saya terpana, selebihnya saya lebih suka menyelonjorkan badan di kursi bioskop sambil berharap plot cerita berkembang lebih baik. Nyatanya, hingga akhir dari 30 pertama itu, film ini sangat membosankan.

Cerita dimulai dengan datangnya sebuah bola raksasa yang jatuh ke bumi dan kehadiran seorang alien berwujud manusia bernama Klaatu. Alien ini memang mengaku bersahabat dengan bumi, tetapi tidak dengan manusia sebagai makhluk bumi. Klaatu ditugaskan untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran dengan cara memusnahkan manusia.

Saya tidak mengerti, Klaatu yang awalnya digambarkan dingin, , mahadaya, tidak berempati dan tidak memiliki emosi, ketika di detik-detik terakhir misi penghancuran bumi, dia mendadak menarik rencananya tersebut hanya karena keteguhan seorang Helen Benson (Jeniffer Connelly) yang mengatakan bahwa manusia bisa berubah dan akan menjaga bumi. Tak lama mendengar penuturan Helen, Klaatu tiba-tiba saja mengurungkan rencananya menghancurkan bumi.

Ending seperti ini menurut saya sama buruknya dengan War of The World. Alien penghancur bumi yang digambarkan sangat sakti dan tak terkalahkan bisa-bisanya tumbang dengan alasan sepele dan tidak memerlukan perjuangan manusia untuk mengalahkannya. Duh, ampun deh. Kapok nonton film sci-fi remake! Cloverfield jauh lebih baik!!!

Skor: 2/5

4 comments

  1. hihi…. marah2 ya abis nonton neh pilm 😀
    penilaiannnya hampir sama dengan gw…. cukup 2 bintang :p
    seru di awal tp anti klimaks di tengah sampe akhir ya
    sayang bgt…

  2. tidak mampu membuat film tersebut menarik bagi yang berakal sehat.

    Emang akalmu masih sehat? Coba cek deh ke Grogol. wkwkwkwkw.

    Aku juga sebelumnya mengira pilem itu bagus, soalnya di thrillernya keren. Trus malam minggu kemarin bareng temen-temen beli tiket nonton di Djakarta. Habis beli tiket, ehh… temenku di Plurk bilangin kalau belum beli tiket, mending ga usah nonton aja karena filmnya SUPERJELEK. Udah dari situ ekspektasi saya berkurang, kemudian baca review di kapanlagi. Akhirnya ya menonton film ini cuman sebagai hiburan saja.
    Saya lebih suka Bolt daripada pilem ini.

  3. @ TQ : film ini membuktikan box office tidak menjamin kualitas film. mungkin banyak orang yg “tertipu” seperti saya. ini memang kehebatan dari publikasi massa. saya pernah nonton film lokal yang jeblok di pasaran berjudul “Fiksi”. Menurut saya, film ini sangat cult sekali dan bagus dari sisi sinematografi hingga alur cerita. Tak heran, film ini jadi jawara di ajang FFI 2008 dengan tiga penghargaan sekaligus: film terbaik, sutradara terbaik, dan pengiring musik terbaik. Sayang sekali banyak penggemar film dsini melewatkan film ini. Ternyata memang pasar perfilman di Indonesia masih doyan film2 bertema horror dan komedi dewasa yg bebal wkwkwkwkwk….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s