Rob Zombie Mengacaukan Halloween?

Rob Zombie memang eksentrik. Saking eksentriknya semua film besutan performer band cadas White Zombie ini memadukan seksualitas dalam gelimangan darah. Sadomasochist? Entahlah. Yang jelas di setiap film Zombie, sebut saja “House of 1000 Corps” dan “The Devil’s Rejects”, semua perempuan adalah objek pembunuhan yang mengasyikan dan menggairahkan: hampir semua yang terbunuh dalam keadaan bugil.

Seperti halnya Marylin Manson, tampaknya Zombie sangat terobesi dengan bentuk-bentuk pelecehan terhadap perempuan. Sekalipun sang istri, Sheri Moon Zombie, selalu dilibatkan dalam film-film sadisnya, itu juga tak jauh dari peran-peran bitchy! Makanya setiap orang geleng-geleng kebingungan begitu proyek reboot “Halloween” yang legendaris itu diserahkan oleh Zombie. Padahal sutradara kawakan seperti Ridley Scott (Alien, Gladiator, Hannibal, Body of Lies) sudah cukup napsu mau menggarapnya.

Burukkah hasilnya? Ehem, secara penggarapan, Zombie memang sudah dibilang cukup berhasil menterjemahkan Halloween yang pernah diproduksi tahun 1978 ini dengan versinya sendiri. Pada bagian awal film, Zombie setidaknya ingin sedikit sentimentil dengan mengangkat penderitaan batin Michael Myers, seorang bocah produk broken home yang akhirnya menjadi psikopat. Sayangnya, penggarapan disini kurang mengangkat emosi penonton, sekalipun adegan-adegan yang ditampilkan cukup mewakili kekelaman masa kecil Michael. Mungkin Zombie tak ingin melupakan pakem that’s my thriller movie. Sentimentil yang berlebihan memang bukan gayanya.

Yang sedikit agak lucu mungkin Zombie terlalu menekankan ‘perempuan bitchy memang pantas dibunuh’ dalam film ini. Tak heran, setiap korban-korban Michael Myers–perempuan muda–selalu dibunuh dalam kondisi topless dan sehabis esek-esek alias berbuat mesum. Setidaknya ada tiga scene adegan seperti ini. Be creative, Zombie! Untuk adegan-adegan seperti ini, seorang teman saya merasa keheranan: kenapa Michael itu niat banget bunuh cewek-cewek, sampe dikejar-kejar segala? Sementara kalo cowok dibunuh seketemunya aja. I dunno…

Sekalipun film ini dibanding-bandingkan dengan versi John Carpenter, setidaknya Zombie telah membuktikan bahwa dia adalah sutradara yang bercita rasa. Halloween 2007 memang sangat identik sekali dengan film-film karya dia sebelumnya. Yang patut diuji dari film ini adalah kemampuannya mempertahankan tensi ketegangan hingga pada puncaknya.

Jika ada orang yang bilang Zombie telah menghancurkan Halloween, saya pun kurang lebih setuju. Namun, yang mencengangkan film garapannya ini berhasil menembus box office di musim panas tahun lalu, bersaing bersama film-film wahid seperti Pirates Caribian. Sungguh langkah yang gagah berani, mengingat film horror beresiko keok jika bertengger dalam summer movie. Namun, ada yang menilai pemutaran lebih awal film ini karena Halloween enggan bersaing dengan Saw IV yang dirilis tepat pada malam Halloween tahun lalu.

Namun, bagi yang menggemari film slasher movie atau pengggemar film Halloween-nya John Carpenter, saya sangat merekomendasikan film ini. Bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk setidaknya menikmati bahwa Michael Myers adalah sebuah legenda dari icon film horror paling populer hingga saat ini. Saya pun tidak malu mengaku perlu waktu setahun menunggu film ini beredar di bioskop dan tidak tergoda dengan DVD bajakannya yang sudah lama beredar di lapak-lapak.

4 comments

  1. Yang bikin bosan adalah ketika membunuh cewek. Adegannya berulang-ulang yakni si cewek harus merangkak-rangkak dahulu sebelum akhirnya benar-benar dibunuh. Tidak ada model adegan lain apa?

  2. “tradisi” lah, soalnye mereka itu “bitchez”….dan “bitchez” emang semestinya tewas dengan cara semengenaskan/menyedihkan/menyakitkan mungkin. Emang udah gitu peraturanye di arena film slasher. Gue nonton 2 versi ni film ini, yg biasa ama yg “director’s cut”. Yg disebut belakangan keliatan jauh lebih superior ke-mane2 dari yg satunye lagi sampe gue heran buat apa Dimension pake bikin yg satunye lagi.

  3. @ Zombem –> Yak, setuju banget. Pakem film horror, bithchez memang harus mati duluan. Yang paling seksi, yang harus menanggung derita lebih awal hehehe. Tapi, kenapa sih Zombie harus mainstream? Gak seperti band cadasnya yg side-stream? Wah, kalo untuk versi DVD memang setiap film horror kadang ada value baru. Biasanya sih ‘gimmick’-nya unrated version atau director’s cut, yang tentunya lebih gokil dari versi rilis layar lebarnya. Malah kadang-kadang film horror juga ada ending yang berbeda antara versi bioskop dan DVD-nya. Contoh, film “They” yang dimainin sama Laura Regan. Endingnya bener2 beda. That’s what makes thriller movies so fun!

    @ Bambang –> Kalo menonton film Halloween di sekuel-sekuelnya, memang gaya ngebunuh si Michael itu yah kayak kucing memangsa tikus. Si tikus dilukai dulu sampe gak bisa bergerak jauh, baru deh langsung diterkam. Ini memang salah satu “jurus” andalan. Sayangnya, memang khsuus di film ini, nih “jurus” muncul berulang-ulang…

  4. Menurut gw nih film gokil abis, dari awal cerita ampe ending denyut nadi terasa nerveous terus, jalan ceritannya ringan dan tidak banyak berfikir rumit, dalam film ini zombie menerapkan tidak banyak teks kata pembicaraan antar pemain, yang ada hanya tegang dan tegang… lumayan stelah nonton ini keluar dari bioskop langsung bengong.karenga perasaan ngeri.. dengan cataan asalkan nontonnya serius.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s