Kabar Campur Aduk Nih

Ada kalanya suasana gembira datangnya bersamaan dengan situasi yang tidak mengenakan. Inilah yang saya alami malam ini. Kabar gembira pertama datang dari Bugi, teman ketika saya bekerja di sebuah bank sekitar 5 tahun silam. Lewat SMS, dia mengabarkan telah berhasil melamar Gina, cewek yang telah dipacarinya lebih dari 6 tahun.

 

Sebenarnya sih lama hubungan keduanya termasuk biasa saja, kalo saja tidak ada pertentangan dari orangtua pihak Gina. Maklum, orangtua dia termasuk bermental feodal yang selalu memandang orang dari babat, bebet, bobot. Tak heran, sepanjang hubungan mereka berjalan, dilaluinya lewat jalur back street. Tapi, tekanan dari orangtua Gina rupanya berhasil membuat Bugi untuk menjadi bukan sekedar ‘cowok biasa’.

 

Begitu lulus kuliah, dia sempat sekantor dengan saya sebagai tenaga pemasaran di sebuah bank. Tapi karena tidak cocok antara pekerjaan dan tujuan hidup, dia mengikuti langkah saya untuk cabut dari bank tersebut. Bedanya, saya kembali terjun ke dunia jurnalistik—sebelum bekerja di bank, saya sempat bekerja sebagai wartawan desk kriminal—sedangkan dia memilih berwiraswasta sebagai konseptor desain. Kebetulan, latar belakang pendidikan dia memang seni rupa.

 

Bakat yang dipadu kegigihan luar biasa, akhirnya mengantarkan dia sebagai konsultan artistik untuk sebuah produksi periklanan maupun film. Bahkan dia juga sekarang sedang mendalami ilmunya di sebuah pusat perfilman di Hongkong. Menurut saya, dia adalah sosok yang telah mencapai puncak kemapanan di usia sebelum 30 tahun. Inilah salah satu motif kenapa orangtua Gina akhirnya bersedia anaknya disunting, begitu ujar pasangan yang kasmaran berkepanjangan ini. Oke deh, ditunggu ya undangannya…

 

Kabar gembira kedua datang dari Ryan. Juga lewat SMS, dia mengabarkan telah sukses ngajak cewek kenalannya nonton The X-Files (pantesan nih anak lama banget balas SMS-nya). Cara kenalannya sih tergolong jayus, Ryan diminta tolong si cewek (jangan khawatir Yan, namanya gue samarin) buat scan foto koleksinya ke flashdisk di sebuah warnet. Hingga tulisan ini dibuat, saya belum tau kelanjutan hubungan keduanya. Tadi sempet sih iseng ngirim SMS: eh, lo nonton doang apa gmana? Tapi dia jawab: nonton doang kok. Duh, padahal saya berharap ada sesuatu yang lebih dari peristiwa nonton ini (ehem..ehem). Maksudnya, chemistry gitu.

 

Dari SMS yang berdatangan dari kedua teman saya itu, awalnya saya sempat mesem-mesem. Tapi, begitu saya pengen keluar rumah, ternyata nyokap sedang dipijat di tempat tidur oleh adik saya yang kebetulan memang menguasai pengobatan alternatif terapi pijat. Ini berarti, nyokap dalam kondisi tidak sehat.

Wah, ini pasti gara-gara mandi kemalaman, begitu dugaan saya. Bukan apa, sebelum nyokap tergolek dipijat, saya sempat lihat nyokap keluar dari kamar mandi, matikan kompor sebentar, trus masuk ke kamar mandi lagi. Katanya sih, mandinya belum kelar karena kepikiran kompor yang masih nyala di dapur. Mandi malam memang ritual yang paling sering dilakoni keluarga saya, termasuk saya hehehe.

 

Melihat kondisi nyokap yang lemah, berita gembira dari teman saya seolah menguap oleh kerisauan yang tidak bisa saya sembunyikan ini. Bukan apa, seringan apapun penyakit yang diderita orangtua, sebagai anak, saya pasti risau. Semoga saja kondisi nyokap bisa cepat pulih dan saya tidak akan ‘puasa’ masakan nyokap yang nyam-nyam itu.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s