Mencoba Ngebut Dengan Telkom Speedy

1434254582-foto_b

Internet memang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari suatu kultur manusia di abad ini. Termasuk saya, yang awalnya menempatkan internet sebagai sesuatu yang fun, tapi belakangan mendatangkan candu luar biasa. Candu itu kian hebat ketika saya menganut sistem kerja teleworking di tempat media saya bekerja. Jadi, saya cukup datang ke kantor setidaknya seminggu sekali untuk koordinasi secara fisik. Sementara untuk kordinasi peliputan dan sebagainya yang tidak berhubungan dengan administrasi, saya cukup berkomunikasi lewat ponsel.

 

Dengan pola kerja seperti ini, tentu internet menjadi bagian yang sama pentingnya dengan ponsel. Saya sulit membayangkan, apa jadinya teleworking tanpa internet. Itulah sebabnya belakangan saya sangat konsern sekali terhadap internet berikut jaringan dan kecepatan koneksinya.

 

Sebenarnya, saya sempat membeli modem CDMA 800 Mhz 2000-1x yang kompatibel dengan beberapa operator CDMA. Alih-alih ingin ngirit, saya malah ‘diperas’. Bayangkan, untuk biaya koneksinya saya harus kalkulasikan satu bulan mencapai Rp 100 ribu. Harga ini menurut saya cukup mahal jika melihat koneksinya yang sangat lambat sekali. Bahkan, untuk beberapa pengiriman foto, baru proses attachment saja sering gagal. Padahal, sudah memakan waktu hingga 30 menit.

 

Selanjutnya, saya mulai mencoba modem 3G dari salah satu operator. Ya, masalah koneksi sih sebenarnya tidak mengecewakan. Tetapi itu dia. Biaya koneksinya sangat mahal sekali, dan kebanyakan menganut sistem volume base. Sementara budaya penggunaan internet saya selain browsing, blogging, dan chatting, adalah download beberapa video klip dan mp3. Jadi, bisa dibayangkan, untuk kuota 1 GB saja, paling bisa saya kuras dalam seminggu saja.

 

Kemudian, saya akhirnya tergiur mencoba MobileQu dari Quasar. Selain harganya relatif murah, ISP ini menganut sistem time base. Sayangnya, terkadang koneksinya drop. Maklum, kekuatan akses sangat bergantung dengan jaringan BTS operator XL yang digunakan. Kalo dalam jam malam sih lumayan cepat. Tapi kalo digunakan pada jam kerja, ya begitu deh. Makanya, baru seminggu saya membeli SIM Card paket 35 jam, saya sudah malas memakainya lagi. Soalnya, terkesan ‘untung-untungan’ kecepatan akses yang bisa saya dapatkan. Kalo lagi beruntung ya lancar, tapi kalo lagi apes ya boro-boro bisa connect.

 

Kalo pengen jujur, saya sebenarnya sudah ngebet banget sama penawaran yang ada di Firstmedia cq. Fastnet. Bayangkan, dengan Rp 100 ribu per bulan saya bisa akses internet sepuasnya dengan kecepatan 384 Kbps. Nah, sayangnya, sejak saya ajukan aplikasi permohonan pemasangan dari bulan Februari, hingga detik ini belum ada tindaklanjutnya. Setelah saya cek ternyata di tempat tinggal saya jaringannya belum tersedia. Cukup aneh sekali, mengingat saya berdomisili di daerah yang gemah-ripah produk TI-nya paling hit.

 

Akhirnya, pilihan saya jatuhkan ke Telkom Speedy. Meskipun banyak teman yang menentang pilihan ini, belum lagi dengan kasak-kusuk layanan yang payah, toh saya sepertinya tidak ada pilihan yang lebih logis lagi. Jadi, sekalipun masih terngiang di telinga saya pameo ‘Speedy kalo digunakan sore hari jadi Sepeda’, saya putuskan*bukan karena duta produk ini si Clarisa Puteri yang jelita itu lho* mengambil paket personal time base, kuota 50 jam dengan abodemen Rp 200 ribu per bulan. Memang, dibandingkan para pesaingnya, Speedy tampak lebih mahal. Tapi saya tidak punya pilihan lain. Dengan sistem kerja, dengan kegiatan saya di dunia maya, tampaknya Speedy memang jadi pilihan yang tak terelakkan.

 

Mengenai kecepatannya sih, menurut saya cukup stabil dan cepat. Ini bisa saya buktikan ketika mendownload album mp3 “Lovely” The Primitive 35 Mb, hanya sekitar 15 menit dengan file-sharing. Menurut saya sih, kecepatan download ini paling cepat dari ISP yang pernah saya pakai. Begitupun dengan aktivitas browsing, dan upload foto juga hampir tak bermasalah. Mudah-mudahan saya benar-benar bisa ngebut dengan nyaman dengan Speedy, gak cuma di awal ini.

 

Di balik itu, saya sepertinya harus menyisihkan budget tambahan yang konstan untuk setiap bulannya, menyusul bayar cicilan kartu kredit, tv kabel, pulsa, dan arisan bulanan. Jadi, saya mesti benar-benar bijaksana dalam penggunaan akses internet, biar nggak jeblok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s