Ketika Privasi Menjadi Mahal di Tempat Bekerja

Privacy

Masih berkaitan dengan pekerjaan saya, ternyata keputusan saya berhenti di perusahaan terakhir telah menyeret seorang rekan kerja saya ke dalam masalah besar. Pagi tadi saya menerima SMS yang kira-kira berisi : Chan, aku sebentar lagi bakal nyusul kamu. Tapi kali ini lain, aku siap2 dipecat gara2 chat kemaren. Semua di copy sama bos.

 

Membaca rangkaian teks itu tentu saja membuat saya terperanjat. Ternyata benar dugaan saya. Apa yang saya khawatirkan memang terjadi. Ceritanya begini. Ketika saya bersiap-siap mengutarakan niat saya resign, ternyata hati saya masih gundah. Bingung harus berkata apa karena saya berusaha resign secara baik-baik dan sulit mencari alasan yang baik dan tepat. Akhirnya, iseng-iseng saya chatting di YM dengan teman saya yang sama-sama membidani bagian kreatif.

 

Meskipun jarak saya dengan dia tergolong hanya beberapa langkah kaki saja, tetap saja saya tidak mau niat saya ini terdengar oleh salah satu orang kepercayaan bos yang kerap mondar-mandir di sekitar ruang kerja. Jadi saya pun asyik curhat dengan dia mengenai keputusan saya tersebut.

 

Akhirnya, setelah mendapatkan dorongan moril dari dia, saya pun memberanikan diri menghadap atasan untuk mengutarakan niat saya. Langsung saja loncat ke bagian setelah saya menghadap bos, saya langsung mengajak teman saya itu untuk sholat ashar di lantai bawah.

 

Apesnya, sebalik saya dari mushola, ternyata orang kepercayaan bos saya sudah berada di meja kerja saya. Sebenarnya sih saya tidak begitu khawatir dia duduk-duduk disana. Cuma saja yang membuat gundah, ternyata YM saya lupa sign out. Meski begitu saya tetap berpikiran positif. Tidak mungkin dia mengintip-intip YM saya. Karena etika di tempat kerja saya sebelumnya tidak membenarkan hal ini.

 

Ternyata saya salah. Menurut kabar teman yang lain, materi chatting saya di-save dan di-print untuk dilaporkan ke atasan. Ternyata privasi saya telah dilanggar oleh orang yang sebenarnya saya hormati disana. Apalagi materi privasi saya dijadikan dasar untuk mendepak orang yang tidak bersalah.

 

Jujur saja, seingat saya apa yang saya bicara lewat YM tidak menyinggung kebijakan perusahaan. Melainkan saya hanya curhat mengenai rencana resign saya. Kalau ini saja menjadi dasar kuat untuk mendepak seseorang, wah betapa naifnya. Mengingat orang yang didepak mempunyai kinerja yang baik dan penurut.

 

Sampai saya tuliskan posting ini, saya merasa sangat berdosa sekali kepada teman saya itu. Keteledoran saya menyeret dia dalam masalah besar karena karirnya sudah di ujung tanduk. Semoga saja kerisauan saya dan dia tidak terwujud. Karena bagaimanapun juga ‘kesalahan’ yang kami lakukan bukanlah hal yang besar. Apalagi privasi kami juga dilanggar. Ini namanya tidak sopan, sama halnya membaca-baca SMS di ponsel orang lain. Ternyata privasi itu memang mahal di beberapa perusahaan tertentu…

 

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s