WNI menjadi tentara bayaran di negeri orang, salah siapa?

Belakangan ini kita dikejutkan oleh pemberitaan seputar perekrutan WNI sebagai tentara bayaran di Malaysia dan ada juga yang mengikuti program wajib militer (wamil) di Singapura. Mengetahui kenyataan yang sempat membuat kuping para pejabat militer di negeri ini merah, pemerintah mengeluarkan ancaman permanent resident atau pencabutan kewarganegaraan bagi WNI yang mengikuti program militer di Singapura dan Malaysia.
Dengan ada berita sensasional ini, seharusnya pemerintah jangan buru-buru mengeluarkan tindakan permanent resident. Seharusnya pemerintah mengkoreksi diri dan melakukan pembenahan perekrutan tenaga militer di negeri sendiri. Karena sudah menjadi rahasia umum, perekrutan sebagai anggota militer, kepolisian, kejaksaan, maupun PNS, terjadi praktek pencaloan dan penyogokan yang melibatkan internal instansi yang bersangkutan.
Untuk lolos sebagai abdi negara, WNI harus mengeluarkan uang yang bisa mencapai ratusan juta rupiah. Ini bukan kabar burung, karena banyak teman dan kerabat saya yang mengalami hal ini. Sangat ironis sekali, ingin mengabdi kepada negara kok mesti bayar. Herannya praktek ini sudah berlangsung sejak lama dan kita terlalu bosan dengan berita-berita penyelewengan seperti ini namun tidak ada tindakan nyata.
Apa jadinya mental aparat dan pamong di negeri ini kalau perekrutannya saja sudah berbau KKN. Tampaknya hal ini pula yang menjadi indikator kinerja tenaga aparat pemerintah yang amburadul itu. Mereka menjadi aparat bukan karena cita-cita dan ingin mengabdi kepada negara, namun dikarenakan memang instansi ini dilihat sebagai lahan yang ‘basah’ untuk materi maupun kekuasaan. Perekrutan seperti ini jelas merusak mental.
Jadi, jangan salahkan mereka yang menjadi tentara bayaran di Singapura dan Malaysia, karena toh menjadi tentara di negeri sendiri harus merogoh kocek yang dalam. Cari kerja sudah sulit, kenapa mengabdi kepada negara juga dipersulit. Kalaupun nanti kewarganegaraan mereka dicabut, sepertinya mereka sendiri juga tidak peduli mengingat pemerintah di negeri ini juga tidak peduli dengan mereka.
Negara ini hanya dipimpin oleh sekumpulan badut-badut yang rakus kekuasaan dan materi. Mereka seolah melupakan petuah Haji Agus Salim bahwa memimpin adalah sebuah jalan derita. Sekarang ini, justru memimpin adalah sumber kenikmatan. Menulis ini kerinduan saya akan pemimpin bersih dan berani seperti Bung Karno dan Moh Hatta kembali bergelora di hati. Namun, melihat kebejatan yang terus terjadi di dunia kepemimpinan negeri ini, tampaknya harapan pupus harapan ini. Revolusi adalah solusi!

15 comments

  1. betul!!!!pemerintah indonesia tidak mengharagai kemampuan warga negaranya, asal punya uang untuk kuliah, punya koneksi di pemerintahan, punya uang sogokan, pintar n ga mampu bukan masalah semua bisa jadi PNS r tentara r polisi. kemampuan dan kepintaran seseorang di indonesia tidak dihargai!!!jika pemerintah mau makan n korbankan rakyatnya jangan salahkan rakyat yang ingin cari makan dan salurkan kemampuannya di tempat yang dirinya dihargai bukan dijadikan bahan tertawaan dan hinaan hanya karena tidak memliki koneksi dan uang!!!! jangan panas baca ni ya karena hati kami yang panas dengan ketidak adilan ini!!!!

  2. teman saya lulusan keperawatan tapi mengulang selama 6 bulan setelah kelulusan (alias tidak lulus, jadi harus mengulang).1 tahun ke daerah orang lain dan berkenalan dengan orang kuat di pemerintahan. dia cerita ketika melamar di PKM tidak ada lowongan langsung saja orang kuat tersebut mendatangi kepala BKD (yang keluarga beliau), dan saat itu juga lowongan honorer ada di PKM tersebut, kemudian dimasukkan PNS dan ditempatkan di PKM tersebut dengan lobi orang tersebut juga.sekarang bekerja di bagian farmasi (untuk AKFAR) di PKM tersebut (padahal lulusan AKPER). anehnya ketika ada seorang yang melamar ke DINKES untuk penempatan di Pustu terpencil, hanya karena ia lulusan SPK, dikatakan bahwa lowongan untuk SPK tidak ada meski banyak Pustu di daerah tersebut kekurangan tenaga perawat. alasannya, dari pusat tidak dikenankan menerima lulusan SPK lagi hanya untuk jatah D3 (Akper) yang akan lulus nanti. entah kebijakan/keputusan tersebut dari Dinkes Provinsi atau Pusat aku tidak tahu akan tetapi anehnya, di daerah lain (provinsi lain bahkan kabupaten lain yang masih 1 provinsi dengan Dinkes tersebut) masih diterima untuk lulusan SPK bahkan di kabupaten tersebut untuk memenuhi kekurangan tenaga kesehatan di bukan jalur keperawatan di Sekolah Menengah Kejuruan.begitu pula kenapa jatah untuk lulusan farmasi diserahkan ke lulusan perawat.inilah anehnya.sambung cerita seorang keluarga dari orang kuat tersebut bercerita kepada saya bahwa adik sepupunya yang baru lulus SMA langsung menjadi honorer di PEMDA padahal sudah tidak ada lagi penerimaan honorer katanya sih karena OM-nya ada di PEMDA tersebut.begitu juga teman saya ketika mau menikah, sang calon istri mensyaratkan agar calon suami sudah PNS (kebetulan dia honorer lulusan SMA pula), kalo ga PNS, calon suami mesti bisa masukkan dia jadi PNS.kebetulan calon istrinya perawat juga.sang teman menyanggupi karena memang dia banyak orang pemerintahan keluarganya.singkat cerita, bahkan sebelum menikah sang calon suami sudah mampu pinjamkan rumah dinas milik dinkes bagi sang calon istri yang bekerja sebagai perawat di daerah lain. lihatlah betapa otak tidak dihargai!!!

  3. @ manusia juga : wah parah sekali mas/mbak. thx buat sharring-nya. ya begitulah tinggal di negara yg membudidayakan pungli dan nepotisme. makanya entah gmana kualitas aparat pemerintah kita skrg ini, kalo cara2 perekrutannya saja tidak benar. Entah ya, saya kok melihat jaman skrg ini orang jadi PNS bukan karena ingin mengabdikan diri sebagai pelayan masyarakat, melainkan sebagai lahan “basah” yang dapat meningkatkan perekonomian personal. Makanya tak heran integritas kebanyakan dari mereka adalah omong kosong. mereka bekerja bukan karena ingin mengabdi melainkan karena ingin memperkaya diri. Ini dikarenakan memang lingkungan kerja PNS sarat akan KKN.

    1. @bujang kelane: waduh….kalo tentara bayaran Singapura itu bukan direkrut dari dubesnya ya? mending cari yang halal deh mas daripada jadi teroris hehehe… sekarang kan banyak tuh agensi hunter gitu? biasanya agensi ini mencari tenaga-tenaga untuk dibina menjadi mata-mata, informan, dan aktivitas lain semacam detektif swasta gitu. coba deh cari informasinya di paman google.

  4. Itulah potret negri kita. Apalagi dng pejabat kita di negri jiran…wah mungkin klo saya bahas disini mungkin bakal merah kuping bapak kita. Sebab justru pejabat kita disana yang menjatuhkan martabat rakyat

  5. Saya berminat jd tentara bayaran krn sdh lma sy bercita2 ingin mengbdi dinegara sndri tp nyatanya sia2 uang sdh bnyk hbis tp smpe skrg sya lum jd tentara

  6. Inti nya masalah perut……..orang kita ( Indonesia ) sangat – sangat tidak menghargai kemampuan,,,,,,,,,kalau mau kerja di indonesia harus punya koneksi, uang dan yg paling sangat terakhir skill itu kalo dibutuhin……ngga heran hidup di indonesia…..nggak di sektor pemerintahan di swasta kurang lebih sama …….

  7. Indonesia.membingungkan.wargnya daftar tni polri gk dikasih kesempatan. Klo pake pelicin baru kasih ksempatan. Giliran daftar diluar dilarang.maunya gmna sih!
    Kalo indonesia dilindungi gk mau yaudah lindungin negara lain yg menerima.
    jdi jangan nyalahin wni langsung.tpi pikir dlu knpa wni jdi tentara luar negri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s