Month: February 2008

WNI menjadi tentara bayaran di negeri orang, salah siapa?

Belakangan ini kita dikejutkan oleh pemberitaan seputar perekrutan WNI sebagai tentara bayaran di Malaysia dan ada juga yang mengikuti program wajib militer (wamil) di Singapura. Mengetahui kenyataan yang sempat membuat kuping para pejabat militer di negeri ini merah, pemerintah mengeluarkan ancaman permanent resident atau pencabutan kewarganegaraan bagi WNI yang mengikuti program militer di Singapura dan Malaysia.
Dengan ada berita sensasional ini, seharusnya pemerintah jangan buru-buru mengeluarkan tindakan permanent resident. Seharusnya pemerintah mengkoreksi diri dan melakukan pembenahan perekrutan tenaga militer di negeri sendiri. Karena sudah menjadi rahasia umum, perekrutan sebagai anggota militer, kepolisian, kejaksaan, maupun PNS, terjadi praktek pencaloan dan penyogokan yang melibatkan internal instansi yang bersangkutan.
Untuk lolos sebagai abdi negara, WNI harus mengeluarkan uang yang bisa mencapai ratusan juta rupiah. Ini bukan kabar burung, karena banyak teman dan kerabat saya yang mengalami hal ini. Sangat ironis sekali, ingin mengabdi kepada negara kok mesti bayar. Herannya praktek ini sudah berlangsung sejak lama dan kita terlalu bosan dengan berita-berita penyelewengan seperti ini namun tidak ada tindakan nyata.
Apa jadinya mental aparat dan pamong di negeri ini kalau perekrutannya saja sudah berbau KKN. Tampaknya hal ini pula yang menjadi indikator kinerja tenaga aparat pemerintah yang amburadul itu. Mereka menjadi aparat bukan karena cita-cita dan ingin mengabdi kepada negara, namun dikarenakan memang instansi ini dilihat sebagai lahan yang ‘basah’ untuk materi maupun kekuasaan. Perekrutan seperti ini jelas merusak mental.
Jadi, jangan salahkan mereka yang menjadi tentara bayaran di Singapura dan Malaysia, karena toh menjadi tentara di negeri sendiri harus merogoh kocek yang dalam. Cari kerja sudah sulit, kenapa mengabdi kepada negara juga dipersulit. Kalaupun nanti kewarganegaraan mereka dicabut, sepertinya mereka sendiri juga tidak peduli mengingat pemerintah di negeri ini juga tidak peduli dengan mereka.
Negara ini hanya dipimpin oleh sekumpulan badut-badut yang rakus kekuasaan dan materi. Mereka seolah melupakan petuah Haji Agus Salim bahwa memimpin adalah sebuah jalan derita. Sekarang ini, justru memimpin adalah sumber kenikmatan. Menulis ini kerinduan saya akan pemimpin bersih dan berani seperti Bung Karno dan Moh Hatta kembali bergelora di hati. Namun, melihat kebejatan yang terus terjadi di dunia kepemimpinan negeri ini, tampaknya harapan pupus harapan ini. Revolusi adalah solusi!

Antara Bencana (Banjir) dan Bergaya…

 Berikut ini ada foto-foto suasana banjir di sekitar rumah saya. Untungnya saya mempunyai stok foto banjir tahun lalu. Jadi setidaknya kita bisa membandingkan, apakah banjir tahun lalu separah banjir edisi 1 februari tahun ini. Atau malah sebaliknya. Tapi, sesusah-susahnya bencana banjir, setidaknya masyarakat kita memang pandai menebar senyum. Lihat saja beberapa foto anggota keluarga saya dan para tetangga.p1010441.jpg

100_2602.jpg

Kalo saja, Bung Ical melihat foto ini, mungkin saja dijadikan dalih pembenaran atas statementnya yang paling menyakitkan tahun lalu, yang kira-kira seperti ini: “Siapa bilang rakyat kesusahan di saat banjir? Orang saya lihat di tivi malah pada tertawa-tawa kok”

Waduh, memalukan banget ya, mengingat doi menjabat sebagai Menteri Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat….dan orang terkaya di Indonesia. Jangan kan korban banjir dia peduli, korban lumpur di Sidoardjo yang diakibatkan dari perusahaannya—Lapindo–saja seolah tak berdaya. Jadi, selamat datang deh di Planet Miring….

Film Ayat-Ayat Cinta: Jangan Bandingkan Dengan Novelnya…

ayat-ayat-cinta

Begitu mendengar novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman El Shirazy akan difilmkan, ada semacam perasaan senang bercampur risau. Senang karena akhirnya perfilman nasional berani menampilkan romantisme berbalut religi yang akan menambah warna poster-poster film di bioskop yang selama ini didominasi oleh film horor, komedi konyol dan drama remaja yang gak penting. Kemudian, risau karena griya film yang membuatnya adalah MD Entertainment. (more…)

Banjir Lagi, Banjir Lagi…

  1.                       100_2564.jpg

Sungguh memalukan memang, jika Jakarta yang notabene disebut sebagai Kota Metropolitan masih mengalami bencana banjir. Ironisnya, bencana ini menjadi langganan tiap tahun setiap musim hujan melanda. Warga Jakarta juga seolah dipaksa untuk menerima bencana ini dengan lapang dada. Mengungsi, meratap, dan mengiba seolah sudah menjadi kebiasaan tahunan.

100_2597.jpg

Begitupun dengan lingkungan di rumah saya tinggal, tidak pernah luput dari ancaman banjir. Entahlah, setidaknya banjir sudah rutin datang dan pergi sekitar 20 tahun yang lalu : dari yang terendah hanya semata kaki di dalam rumah, hingga mencapai pinggang orang dewasa. Sepertinya berenang dalam banjir dan menggotong barang-barang untuk dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi sepertinya sudah menjadi olahraga khas banjir.

Mungkin bukan hanya saya dan keluarga, tetapi juga jutaan orang di tanah Jakarta. Mengingat potensi banjir sekarang ini sanggup merendam lebih dari 80 persen wilayah Jakarta. Yang lebih memalukan, Istana Negara pun sekarang tak luput dari banjir. Jika singgasana presiden yang letaknya sekitar 3 km dari tempat saya tinggal saja terendam hingga di atas mata kaki, gmana dengan rumah saya. Wah….

Janji-janji surga Gubernur baru yang ingin membenahi masalah ini pun juga saya rasa tinggal janji. Tapi memang tidak sepenuhnya Bang Kumis bersalah. Wong dia baru menjabat gubernur baru beberapa bulan kok. Gak mungkin kan mengatasi masalah yang udah mengakar ini dalam hitungan bulan. Yang patut disalahkan ya siapa lagi kalo bukan Si Babeh yang pernah menjabat sebelumnya.

Tapi masalah salah siapa ya mungkin tidak akan habisnya. Mengingat bangsa ini kehabisan stok pejabat yang gentle untuk mengakui kesalahannya. Kalo berkelit dari salah mah ya memang jagonya hehehe….