Tahu-tempe Diganti Belalang dan Belatung?

tahu-dan-tempe

Hari Sabtu (12/1), bisa jadi merupakan hari terakhir saya menyantap tempe sebagai penganan sehari-hari. Bagaimana tidak, makanan yang setidaknya tiga kali seminggu mampir ke perut saya, produksinya sementara dihentikan. Ini terkait dengan aksi mogok yang dijalani oleh produsen dan pedagang tahu dan tempe karena melonjaknya harga kedelai sebagai bahan baku utama. Ibu saya sendiri beberapa hari ini mengeluh karena susahnya mendapatkan kedua penganan tersebut di pasar-pasar.

 

Memang sungguh tidak masuk diakal. Indonesia sebagai negara yang tanah yang kaya akan hasil buminya, mempunyai kedelai sebagai komoditi yang mahal. Katanya sih, jumlah hasil panen kedelai tidak sebanding dengan jumlah perminataan. Ah masa sih? Ironis! Sementara di berbagai mal dan pusat perbelanjaan lainnya restoran maupun kafe impor semakin menjamur, eh makanan pribumi kian tersudut. Tak hanya dari segi gengsi, tahu dan tempe pun ‘keok’ berproduksi.

Kalau dibiarkan begini terus, bagaimana kelangsungan stamina dan pertumbuhan raga rakyat kecil. Karena kedua makanan tersebut merupakan sumber gizi yang murah sekaligus nikmat. Meski tidak sebanding dengan regukan satu gelas susu, gizi tahu tempe setidaknya cukup memenuhi kebutuhan asupan protein bagi mereka yang tidak sanggup membeli susu, keju, ataupun telur yang harganya juga kian meroket.

Setelah minyak tanah, minyak goreng, menyusul tahu dan tempe, entah bagaimana nasib kalangan tak berpunya dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka sehari-hari. Mau bercocok tanam, lahan mereka tidak punya. Krisis minyak tanah mungkin bisa tergantikan dengan kayu bakar. Namun bagaimana dengan krisis tahu tempe? Setahu saya, tidak ada penganan murah dan bergizi yang senikmat tahu tempe. Masak sih kita harus menyantap belalang dan belatung sebagai makanan alternatif. Sungguh menyeramkan dan sangat primitif.

Duh, semoga saja kerinduan saya akan tahu tempe tidak berlangsung lama. Tidak kebayang, bagaimana sarapan dengan nasi uduk tanpa sepotong tempe goreng berbalut tepung terigu. Atau menikmati suasana santai di sore hari tanpa renyahnya tempe goreng dan lembutnya tahu isi. Wah…sungguh sebuah paradoks baru dalam dunia kuliner rakyat jelata.

foto: cahayareformasi.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s